Walfajri

Oleh: Walfajri
16 Desember 2009

A. Perkembangan Pembelajaran Bahasa Arab di Dunia Islam


Berbicara tentang bahasa Arab dalam konteks sejarah tidak bisa lepas dari perjalanan penyebaran agama Islam. Begitu pula sebaliknya, mengkaji tentang Islam berarti pula mempelajari bahasa Arab sebagai syarat wajib untuk menguasai isi kandungan al-Qur'an dan al-Hadis sebagai sumber utama agama Islam.

Sejarah mencatat bahwa bahasa Arab mulai menyebar ke luar jazirah Arabia sejak abad ke-1 H atau abad ke-7 M, kemanapun mengikuti gerak penyebaran Islam. Penyebaran itu meliputi wilayah Byzantium di utara, Persia di timur, dan Afrika sampai ndalusia di barat. Hingga pada masa khilafah Islamiyah, bahasa Arab menjadi bahasa resmi yang dipergunakan untuk sosialisasi agama, budaya, administrasi, dan ilmu pengetahuan. Posisi strategis yang dimiliki bahasa Arab ini mengungguli semua bahasa yang pernah ada sebelumnya, seperti bahasa Yunani, Persia, Koptik, dan Syria.

Melalui analisis sejarah, dapat diketahui bahwa adanya interaksi yang intens antara bangsa Arab dan Eropa dalam pewarisan ilmu pengetahuan Yunani Kuno melalui penerjemahan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, kemudian dari bahasa Arab ke bahasa Latin, sehingga dalam megkaji teks-teks sastra dan keagamaan memungkinkan terjadinya kesamaan tujuan belajar-mengajar antara kedua bahasa tersebut. Dengan demikian, dapat diduga adanya kesamaan cara belajar-mengajar bahasa Arab dengan bahasa Latin yang berlaku saat itu, yaitu grammar-translation method (thariqah al-qawa'id wa al-tarjamah), metode pembelajaran bahasa asing yang dianggap paling tua sehingga tidak diketahui sejarah muncul dan perkembangannya. Metode ini diprediksi muncul semenjak orang merasa perlu untuk mempelajari bahasa asing. Metode ini sudah tampak dipakai sejak kebangkitan Eropa pada abad ke-15, walaupun penamaannya dengan grammar-translation method baru dikenal pada abad ke-19. Oleh karena itu, ia muncul tanpa landasan teoritis , baik secara linguistik, psikologis, maupun edukatif.

Namun demikian, ketika masa kejayaan Islam semakin meredup pada akhir abad ke-18, sementara Eropa mengalami renaisans (kebangkitan kembali atau pencerahan), mata angin pembelajaran bahasa Arab pun mulai berganti arah. Kemajuan yang terjadi di Eropa menggiring dunia Arab dan Islam untuk berbalik mencari tetesan ilmu pengetahuan yang pada awalnya berasal dari kemajuan peradaban mereka sendiri. Di sinilah teori dialektika Hegel terjadi. Peradaban Barat maju karena kemajuan peradaban Islam masa lalu, masa kebangkitan Islam dan Arab kemudian dipengaruhi oleh kemajuan peradaban Barat. Melalui invansi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798 M, dunia Arab dan Islam mulai terbuka kembali untuk melihat dan meneladani berbagai kemajuan yang terjadi di Eropa.

Sejak Saat itu pula, Mesir banyak menimba ilmu serta mengadakan hubungan diplomatik kebudayaan dengan Eropa, khususnya Perancis. Dalam pengajaran bahasa, metode-metode yang berkembang di Eropa pun diadopsi dan digunakan secara luas di Mesir, mulai dari metode gramatika-tarjamah sampai dengan metode langsung (direct method/al-thariqah al-mubasyirah). Pembelajaran bahasa Arab semakin berkembang dan mendapatkan momentumnya manakala terjadi invansi para missionaris Kristen dari Amerika menyerbu negeri Arab bagian utara (Syam). Karena dalam penyebaran misi awalnya, mereka menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, maka berkembang pulalah metodologi pembelajaran bahasa Arab. Sehingga lahirlah beberapa buku yang berkaitan dengan ilmu bahasa Arab termasuk kamus-kamus berbahasa Arab. Al-Munjid adalah salah satu bukti sejarah di mana seorang Nasrani seperti Louis Ma'luf terlibat secara langsung dalam pengembangan bahasa Arab.

Dari latar belakang sejarah tersebut, dapat dikatakan bahwa perkembangan metodologi pembelajaran bahasa-bahasa Latin di Eropa, dan bahasa Inggris di Eropa dan Amerika banyak berjasa dalam memajukan perkembangan metodologi pembelajaran bahasa Arab.

B. Perkembangan Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia

1. Bahasa Arab Sebagai Bahasa Agama Verbal

Sebagai simbol ekspresi linguistik ajaran Islam, pembelajaran bahasa Arab yang pertama di Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan seorang muslim dalam menunaikan ibadah ritual, khususnya ibadah shalat. Sesuai dengan kebutuhan tersebut, materi yang diajarkan hanya terbatas pada doa-doa shalat dan surat-surat pendek al-Qur'an yang lazim dikenal dengan juz 'amma. Metode yang lazim digunakan ialah metode abjadiyah (alphabetical method) yang terkenal dengan nama metode baghdadiyah. Metode ini menekankan pada kemampuan membaca huruf-huruf al-Qur'an (al-huruf al-hija'iyah) yang dimulai dari: (a) penyebutan huruf dengan namanya satu persatu dari alif samapai ya' secara abjad sampai murid hafal nama-nama huruf tersebut secara terpisah atau satu persatu, kemudian (b) diajarkan kata-kata yang terdiri dari dua huruf , lalu tiga huruf, dan begitu seterusnya yang diberikan secara bertahap, kemudian meningkat pada (c) pengajaran harakat, dimulai dengan menyebutkan huruf yang disertai dengan nama harakatnya.

2. Bahasa Arab Sebagai Media Memahami Agama

Seiring dengan berkembangnya waktu, metode dan pola pembelajaran yang pertama di atas mulai mengalami pergeseran dan perkembangan ke arah yang lebih bermakna. Pembelajaran bahasa Arab verbalistik sebagai mana di atas tidak cukup, karena al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca sebagai sarana ibadah, melainkan juga sebagai pedoman hidup yang harus dipahami maknanya dan diamalkan ajaran-ajarannya. Oleh karena itu, muncullah pembelajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua dengan tujuan mendalami ajaran agama Islam.

Pembelajaran bahasa Arab bentuk kedua ini tumbuh dan berkembang di berbagai pondok pesantren salaf. Materi yang diajarkan mencakup fikih, aqidah, akhlaq, hadits, tafsir, dan ilmu-ilmu bahasa rab seperti nahwu, sharaf, dan balaghah dengan buku teks berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama dari berbagai abad di masa lalu. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode gramatika-tarjamah (thariqah al-qawa'id wa al-tarjamah/grammar-translation method) dengan teknik penyajian yang masih relatif tradisional, di mana guru (Kiai) dan para murid (santri) masing-masing memegang buku (kitab). Guru membaca dan mengartikan kata demi kata atau kalimat demi kalimat ke dalam bahasa daerah khas pesantren yang telah didekatkan kepada sensivitas bahasa Arab. Sedangkan tata bahasa (qawa'id) bahasa Arab diselipkan ke dalam kata-kata tertentu sebagai simbol yang menunjukkan fungsi suatu kata dalam kalimat. Santri hanya mencatat arti setiap kata atau kalimat Arab yang diucapkan artinya oleh guru, tanpa adanya interaksi verbal yang aktif dan produktif antara kiai dan santrinya.

3. Bahasa Arab Sebagai Media Komunikasi

Meski pola pembelajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua di atas sangat dominan berlaku di berbagai pondok pesantren salaf hingga kini, dan diakui kontribusinya dalam memberikan pemahaman umat Islam Indonesia terhadap ajaran agamanya, namun tuntutan dunia komunikasi pada gilirannya menggiring perubahan baru pola peembelajaran bahasa Arab. Interaksi antar bangsa menuntut umat Islam untuk tidak sekedar memiliki kemampuan berbahasa Arab reseptif (pasif), tetapi kemampuan berbahasa yang lebih aktif dan produktif. Semangat pembaruan ini diperkuat dengan munculnya para cendikiawan dan intelektual muda muslim dengan nuansa pemikiran yang segar, sekembali mereka dari menuntut ilmu di negeri pusat-pusat pendidikan di Timur Tengah, terutama Mesir.

Pada masa inilah metode langsung (direct method / al-thariqah al-mubasyirah) mulai diterapkan dalam pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga ini terdapat di berbagai pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam modern sejak awal abad ke-19. Dimulai di Padang Panjang oleh ustadz Abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua bersaudara Zaenuddin Labay al-Yunusi dan Rahmah Labay el-Yunusiyah, Diniyah Putra (1915) dan Diniyah Putri (1923), dan ustadz Mahmud Yunus, Normal School (1931). Kemudian ditumbuh-kembangkan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah Gontor Ponorogo.

Dalam sistem pengajaran bentuk ketiga ini, pelajaran agama pada tahun pertama diberikan sebagai dasar saja dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagaian besar perhatian siswa dicurahkan kepada pelajaran bahasa Arab dengan metode langsung. Pada tahun kedua, ilmu tata bahasa Arab (nahwu-sharaf) mulai diberikan dalam bahasa Arab dengan metode induktif (al-thariqah al-istiqra'iyah), ditambah dengan latihan intensif qira'ah (reading), insya' (writing), dan muhadatsah (speaking/conversation). Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dalam masa belajar enam tahun (pasca sekolah dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini (setara dengan lulusan SLTA/SMA) telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab secara lisan dan tulis, serta mampu membaca buku berbahasa Arab dalam berbagai subyek pengetahuan.

Dalam perkembangannya, pembelajaran bahasa Arab di perguruan Islam modern ini tidak hanya menggunakan metode langsung tapi mengikuti pembaruan-pembaruan yang terjadi di dunia pembelajaran bahasa, misalnya metode aural-oral (al-thariqah al-sam'iyah al-syafawiyah) dan pendekatan komunikatif (al-thariqah al-itthishaliyah).

4. Bentuk Integrasi

Selanjutnya, dari obsesi para pemerhati pembelajaran bahasa Arab yang ingin mengintegrasikan antara bentuk pembelajaran bahasa Arab yang kedua dan ketiga, maka muncullah bentuk pembelajaran bahasa Arab keempat yaitu bentuk integrasi. Pada fase ini tujuan pembelajaran bahasa Arab memiliki dua arah, yaitu pembelajaran bahasa Arab untuk penguasaan kemahiran berbahasa dan pembelajaran bahasa Arab untuk penguasaan pengetahuan lain dengan menggunakan wahana bahasa Arab. Selain itu, jenis bahasa yang dipelajari mencakup dua bahasa, yaitu bahasa Arab klasik dan modern. Penggabungan ini di satu sisi memiliki kelebihan karena dapat memberdayakan kompetensi peserta didik secara komprehensif, namun di sisi lain melahirkan ketidakmenentuan, karena keterbatasan sel-sel otak peserta didik untuk mengakomodasi keduanya secara bersamaan.

Ketidakmenetuan ini bisa dilihat dari berbagai segi. Pertama dari segi tujuan, terdapat kerancuan antara mempelajari bahasa Arab untuk menguasai kemahiran berbahasa atau sebagai alat untuk menguasai pengetahuan lain yang menggunakan wahana bahasa Arab. Kedua dari segi jenis bahasa yang dipelajari, terdapat ketidakmenentuan apakah bahasa Arab klasik, bahasa Arab modern, atau bahasa Arab sehari-hari. Ketiga dari segi metode, terdapat kegamangan antara mempertahankan metode yang lama atau menggunakan metode yang baru.
Meskipun demikian, pembelajaran bahasa Arab bentuk keempat ini telah banyak dipergunakan hingga kini di berbagai lembaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) di Indonesia. Kebijakan ini diambil karena bentuk integrasi ini dipandang lebih aspiratif dengan perkembangan abad globalisasi, dengan terus mengupayakan berbagai cara untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalamnya. Begitu pula dengan kegamangan yang ada, setidaknya dapat memacu para pemerhati pembelajaran bahasa Arab untuk menghadirkan tawaran positif bagi pengembangan metodologi pembelajaran bahasa Arab.

Akhirnya, bentuk-bentuk pembelajaran bahasa Arab yang telah diuraikan di atas masih tetap eksis dan dipergunakan hingga saat ini, tentu dengan modifikasi, inovasi dan perkembangan masing-masing. Jika pembelajaran bahasa Arab bentuk pertama dahulu berada di surau dan masjid, kini berkembang menjadi TPQ/TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) yang menjamur bukan hanya di pedesaan tapi juga marak di perkotaan. Metode pembelajaran yang digunakan semakin berkembang menjadi lebih praktis dan bervariasi, tidak hanya metode eja/abjad, tapi juga menggunakan metode iqra', al-barqi, hattawiyah, al-nur dan sejenisnya. Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran beragama masyarakat dan kesdaran akan perlunya menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak sejak usia dini.

Sementara itu, pembelajaran bahasa Arab bentuk kedua masih tetap dipertahankan di pondok-pondok pesantren salaf. Sedangkan pembelajaran bahasa Arab bentuk ketiga yang menekankan bahasa Arab sebagai alat komunikasi banyak dipergunakan di pondok pesantren modern, dan berbagai lembaga pendidikan Islam modern. Adapun pembelajaran bahasa Arab bentuk keempat juga masih tetap dipergunakan hingga kini di lemabaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) dan terus diupayakan penyempurnaannya, baik dari segi kurikulum, orientasi pembelajarannya, materi yang diajarkan, metode dan strategi pembelajarannya, serta media yang digunakan.

1 Response
  1. MoerDjun Says:

    Assalamu'alaikum.
    soory banget. perasaan ane dah komentar.tapi waktu diposkan mungkin engga ke save, kali ya.. jri..


Poskan Komentar